12:51
[Halo, gue udah di depan rumah lu nih, Ri.]
Klik. Ponsel itu mati dalam sekali ketuk.
Meskipun laki-laki itu setengah sadar karena sudah tidur sejam yang lalu, namun raganya berusaha bangun secepat mungkin untuk segera menemui seseorang yang sepertinya sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
"Cal, lu ngapain kesini malem-malem?"
Ri menatap jam dinding yang bertengger di atas sofa biru langitnya. Pukul dua belas malam kurang sembilan belas belas menit.
"Temenin gue makan yuk!"
"Hah, semalem ini? Udah larut banget ini Cal."
"Plis, ayooo dong Ri. Gue udah bawa motor nih, lo tinggal bawa badan aja. Ntar gue traktir deh." Ri akhirnya mengalah, mengambil jaket di dalam kamarnya lalu keluar lagi.
"Yuk!" Cal berjalan lebih dulu ke arah motor maticnya.
Cal sudah lebih dulu duduk manis di sisi depan jok motornya.
"Nih." Cal menyodorkan sebuah helm berwarna hitam metalik ke tangan Ri.
"Dih, persiapan banget lu," ungkap Ri heran.
"Iya dong. Gue gitu loh."
Saat perjalanan berlangsung Ri hanya diam dan bertanya-tanya apakah ini benar sahabatnya, Cal. Ri takut kalau yang sedang memboncengnya ini bukan Cal.
Tepat di lampu merah pertama setelah keluar dari perumahan tempat Ri tinggal, Ri menengok ke arah kaki Cal. Tanpa sepengetahuan Ri, Cal melihat gerak-gerik Ri melalui spion kiri motornya.
"Lu ngapain nunduk-nunduk sih Ri?"
"Mastiin aja kalo kaki lu napak," jawab Ri dengan spontan.
"Anjir, lu kira gue setan? Kalo ga percaya ini cubit aja tangan gue." Ri mencubit lengan kanan Cal.
"Aduh Ri, ya nyubitnya jangan kenceng-kenceng kali hih."
"Ya lu tadi yang minta dicubit. Giliran gue cubit protes. Tuh udah mau ijo. Fokus ke jalan." Cal hanya mendengus.
Ri sama sekali tidak tau mau dibawa kemana, yang jelas ini masih di area Jakarta Pusat.
"Cal, kita mau kemana sih?" Ri setengah berteriak karena jalanan Jakarta Pusat masih cukup padat meskipun ini sudah dini hari.
"Hah? Apaan Ri? Ngga denger gue."
Ri pasrah saja. Cal ini udah setengah budeg ditambah lagi dengan lalu lalang kendaraan yang tiada henti di sekitar mereka.
Cal ternyata membawa Ri ke restoran cepat saji 24 jam dengan menu andalannya Burger itu. Cal memang sedang ingin makan Burger.
"Gue masuk dulu ya. Lu tunggu sini. Take away aja nanti sambil ke mini market beli es krim." Cal cepat-cepat masuk ke restoran tersebut tanpa menunggu persetujuan Ri.
Ri hanya diam di samping motor Cal.
15 menit Cal sudah kembali dengan paperbag berisi Burger.
"Minumnya beli di minimarket aja. Sekalian beli es krim."
Lagi. Tanpa persetujuan Ri, Cal menaiki motor dan membawa Ri ke minimarket terdekat.
Sesampainya di minimarket Ri hanya mengekor pada Cal untuk mengambil minuman teh dalam kemasan dan es krim coklat.
Setelah selesai memilih dan membayar tentunya, mereka duduk di kursi yang tepat berada di depan minimarket tersebut. Ada lima pasang kursi yang disiapkan dan empat diantaranya penuh dengan laki-laki yang saling berbincang sambil mengepulkan asap rokok.
"Kursi di samping motor kita parkir masih kosong tuh." Cal menunjuk sepasang kursi kosong sembari berjalan mendahului Ri. Tak butuh waktu lama, Cal mulai membuka paperbag berisi Burger yang dibelinya tadi dan memberikannya satu burger pada Ri.
"Dimakan Ri, keburu basi."
"Yakali Cal, burger baru dibeli masa udah basi."
"Canda kali Ri, serius amat jadi orang."
Ri mulai memakan burgernya dengan lahap. Ternyata dia juga lapar. Sedangkan Cal justru memakannya dengan pelan. Mengambil satu persatu bagian dari burger tersebut, baru memakannya.
"Dih, aneh banget lu Cal makan burger begitu. Makan burger tuh ya langsung sekali gigit gini," Ri menunjukkan cara memakan burger dengan benar versi dirinya dan kebayakan orang.
"Sewot amat lu Ri, enak gini kali. Bisa ngerasain satu persatu bagian. Jadi ga kecampur rasanya," jawab Cal tak mau kalah.
"Ya mana enak sih Cal. Aneh banget sih lu." Ri hanya geleng-geleng kepala.
"Ri, lu inget gak sih kita pertama ketemu dulu dimana?" Cal mencoba mengubah arah pembicaraan.
"Di minimarket juga gak sih? Gue abis ditabrak motor gara-gara mau nyebrang gue ga liat kanan-kiri. Terus lu lagi duduk di depan minimarket bawa dua es krim coklat."
"Hahaha lu masih inget banget sih Ri. Gue kira lu udah lupa."
"Mana bisa lupa sih Cal sama tampang lu yang datar banget kayak triplek itu."
"Ya abis gue bingung. Mungkin kalo jaman sekarang namanya diprank kali ya. Tapi sebutannya jaman gampangnya ya gue dikerjain. Kakak gue laknat banget ninggalin gue di depan minimarket. Bilangnya mau beli es kelapa muda disamping minimarket, padahal disitu ga ada orang jualan."
"Lagian lu bego banget jadi manusia. Eh tapi nih ya, kok lu ga nangis sih pas itu? Gue aja yang kesrempret dikit doang udah nangis kejer."
"Ya ngapain gue nangis anjir. Lagian kalo nyokap gue masih inget gue, pasti juga bakal dijemput kali. Emangnya lu, cengeng dari dulu."
Pandangan beberapa orang di sekitar Cal dan Ri mengarah ke mereka. Ri jadi salting.
"Ya gausah kenceng-kenceng juga kali Cal kalo ngomong. Gue malu. Lagian nih ya, itu kejadian udah sembilan tahun yang lalu ya. Sekarang gue udah gak kayak gitu kali. Eh iya Cal, gue mau nanya beneran nih, lu kok tumben ngajak gue pergi malem-malem gini? Udah nyaris pagi malah, terus itu bawa-bawa ransel lagi," Ri menunjuk jam di pergelangan tangan Cal yang menunjukkan pukul 12:51.
"Yaa gapapa. Gue laper aja. Tadi ga ada makanan di rumah. Daripada gue makan sendiri yaudah ngajak lu. Gue tau banget lu jam segini pasti belum tidur. Kalo soal ransel sih gara-gara sling bag gue dicuci dan gue ga punya tas lain," Jawab Cal dusta.
Ri hanya mengangguk. Hening. Mereka sudah berganti menikmati es krim cone rasa coklat favorit mereka.
"Manis banget ya? Beda dari biasanya," Cal memecah keheningan.
"Sambil ngeliatin gue sih lu. Jadi es krim nya tambah manis deh," Ri menjawab asal.
"Idih, pede banget lo Ri," Jawab Cal mengejek.
"Pulang yuk Ri, udah mulai ngantuk gue," Cal mengajak Ri untuk pulang karena dirasa sudah selesai makan dan minum.
"Yuk, tapi gue yang nyetir ya Cal. Daripada kenapa-kenapa di jalan, kan lu ngantuk," Balas Ri sembari mengambil kunci motor yang masih digenggam oleh Cal.
"Hehh nggak nggak. Gue tetep yang nyetir. Lu kan belum punya SIM Ri. Lagian gue juga belum ngantuk ngantuk amat ini." Cal mulai was was.
Ri mengeluarkan dompet dari saku celananya dan menunjukkan SIM C yang bertengger manis disana.
"Seminggu yang lalu gue udah bikin Cal. Sekalian sama SIM A malah. Jadi, gausah takut lu kalo gue yang bawa motor."
"Anjir, kok lu ga cerita sih Ri? Eh tapi tetep aja skill naik motornya masih bagus gue. Ngeri ah kalo lu yang nyetir."
"Ya ngapain juga gue koar-koar ke lu pekara SIM doang. Ga penting-penting amat. Lu kok ga percayaan banget sih Cal sama gue, tenang aja Cal gue udah mahir ini naik motornya. Ga kayak dulu. Udah ah ayo balik."
Ri dengan cepat menuju motor dan duduk manis di jok depan. Cal hanya mengendikkan bahu, mau tidak mau mengikuti.
Di perjalanan, mulut Cal tidak bisa diam. Selalu mengomentari cara naik motor Ri, mulai dari teriak-teriak karena Ri mau mendahului laju mobil di depan mereka, sampai merapalkan doa-doa yang dia bisa agar selamat sampai tujuan tanpa lecet sedikitpun.
"Riiii, awas itu di depan ada mobil dari lawan arah kenceng. Lu gausa ngebuttt. Gue takutttt Riiii."
Ri tidak menggubris Cal dan justru menambah kecepatan motor Cal.
***
Sesampainya di depan rumah Ri, Cal mengucap syukur sebanyak yang ia bisa.
"Bersyukur banget Ri. Gue takut nyawa gue melayang tadi Ri."
"Lebay banget sih lu. Yaudah gih balik. Gue mau tidur."
Ri melepaskan helm dan menyerahkan helm serta kunci motor pada Cal. Tetapi Cal justru melepaskan helm nya dan menyerahkannya pada Ri.
"Berhubung gue udah ngantuk dan ga sanggup kalo naik motor, gue nitipin motor sama helm di lu ya. Besok biar diambil sama abang gue."
"Hah? Kenapa gitu? Yaudah ayok mendingan gue anter aja lu balik, nanti gue baliknya naik ojek atau taksi online."
"Eh gausah, tuh gue udah pesen taksi online," Jawab Cal sambil menunjuk mobil yang sedang berhenti di depan gerbang rumah Ri.
"Lu yakin Cal?"
"Iya Ri. Tenang aja. Oh iya Ri, biar gampang nanti tolong masukin helm gue di jok motor ya. Abis gue cuci sama gue ganti kacanya kemaren. Sayang kalo nanti lecet."
"Okedeh Cal."
"Yaudah gue balik ya, bye."
"Yoi."
Cal cepat-cepat pergi dari rumah Ri dan menuju taksi online. Menahan bulir air mata yang tertampung penuh di kedua kelopak matanya.
***
"Jalan sekarang ya pak."
"Oke, Neng. Tujuannya sudah betul bandara ya Neng?" tany supir taksi online.
“Iya, Pak,” jawab Cal singkat.
Cal mematikan ponselnya, mengeluarkan sim card dari dalam ponsel tersebut dan mematahkannya menjadi dua. Cal membuang sim card tersebut ke dalam tempat sampah kecil yang ada di dalam taksi online tersebut.
Cal meremas sweater yang dikenakannya. Melampiaskan rasa sesak yang tertimbun dalam dadanya.
"Bye, Ri." Cal menggumam nyaris tak terdengar.
***
Ri mendorong motor Cal ke dalam garasinya dengan pelan, berharap tidak mengusik waktu istirahat dari orang-orang di rumahnya. Ri juga memasukkan helm berwarna hitam tersebut ke dalam jok motor Cal.
Ri terkejut melihat plastik berwarna hitam di dalam jok motor Cal. Ada sepucuk sticky notes bertuliskan 'buat Ri'
"Alay banget sih lo Cal. Nih pasti isinya ciki doang ini," monolog Ri.
Ri membawa plastik tersebut ke dalam kamarnya dan membukanya secara perlahan. Ri terkejut karena isinya adalah hadiah ulang tahun pemberian dari Ri untuk Cal sejak mereka berteman. Mulai dari boneka beruang coklat, jam tangan, action figure Spiderman, buku cerita rakyat, jam weker Spiderman, snow globe dengan lambang monas, kotak musik, sketch book, dan satu figura berisi mawar kuning yang sudah kering.
Pada bagian bawah plastik hitam tersebut ada satu kertas binder berwarna putih yang dilipas menjadi empat bagian. Ri membuka kertas tetsebut pelan-pelan dan membaca isi yang tertulis dalam kertas tersebut.
[Halo, Ri. Lu pasti baca ini pas gue udah cabut kan Ri?
Ri sorry ya gue balikin barang-barang yang lu kasih ke gue. Thanks Ri udah mau jadi temen gue meskipun gue tuh freak abis haha.
Gue mau pamit sih sebenernya Ri. Mau ngejar cita-cita gue. Daripada gue disini ngejar yang gak pasti. Nah, maka dari itu gue nitip barang-barang yang lu kasih ke gue dulu itu. Biar aman aja. Ga mungkin gue bawa soalnya.
Oh ya, gue baru tau arti mawar kuning yang lo kasih ke gue setahun yang lalu, persahabatan. Thanks ya Ri kalo lu emang nganggep gue sahabat. Yaaa, meskipun gue sempet berharap lebih. Haha goblok banget gue Ri. Padahal gue tau lu ga bakalan bisa nganggep gue lebih. Sampai kapanpun. Udah kayak nunggu kali ciliwung bening alias ga mungkin banget.
Dahla intinya itu. Gue mau pamit aja. Gue ga sanggup ngomong langsung makanya gue nulis ini. Thanks juga lu tadi udah nemenin gue makan, mungkin tadi juga bakalan jadi terakhir kalinya gue ketemu lu Ri. Gue bakal pergi jauh. Lu gausa cari gue ya Ri. Lah, kok gue pede banget ya hahaha. Gue mau ngebiasain diri buat hidup tanpa lu. Gue mau berterimakasih sebanyak-banyaknya ke lu soalnya lu udah ngajarin gue arti hidup yang sesungguhnya. Baik-baik ya lu disitu. Jangan lupain es krim coklat hahaha.
Oh iya, motor gue besok diambil sama temen gue namanya Jo, perawakannya emang kayak preman pasar tapi ada tatto barbie mariposa warna pink di lengan kanannya.Jadi, lo ga perlu takut.
Meskipun tulisan ini acak-acakan tapi lu kudu percaya ini ditulis sama tangan kanannya Cal pake polpen minjem customer service bank tadi siang. Haha ga penting banget buset].
Ri melipat kertas surat tersebut seperti semula. Ia masih tidak menyangka bahwa tadi adalah pertemuan terakhirnya dengan Cal.
Ri juga terkejut karena secara tidak langsung Cal sudah menyatakan perasaannya secara jujur. Ri kecewa pada dirinya sendiri mengapa Ia tidak peka dengan perasaan Cal. Ri bingung.
Ri merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Menatap langit-langit kamar dengan tangan masih setia menggenggam sepucuk surat dari Cal. Setetes air mata turun dari mata kirinya.
"Cal, gue ternyata bohong sama lu. Gue masih cengeng Cal sampe sekarang," air mata Ri mengalir lagi. Kali ini lebih deras. Tulus. Tanpa isakan.
- SELESAI -
Komentar
Posting Komentar