Postingan

12:51

[Halo, gue udah di depan rumah lu nih, Ri.] Klik. Ponsel itu mati dalam sekali ketuk. Meskipun laki-laki itu setengah sadar karena sudah tidur sejam yang lalu, namun raganya berusaha bangun secepat mungkin untuk segera menemui seseorang yang sepertinya sudah berdiri di depan pintu rumahnya. "Cal, lu ngapain kesini malem-malem?" Ri menatap jam dinding yang bertengger di atas sofa biru langitnya. Pukul dua belas malam kurang sembilan belas belas menit. "Temenin gue makan yuk!" "Hah, semalem ini? Udah larut banget ini Cal." "Plis, ayooo dong Ri. Gue udah bawa motor nih, lo tinggal bawa badan aja. Ntar gue traktir deh."  Ri akhirnya mengalah, mengambil jaket di dalam kamarnya lalu keluar lagi. "Yuk!" Cal berjalan lebih dulu ke arah motor maticnya. Cal sudah lebih dulu duduk manis di sisi depan jok motornya. "Nih." Cal menyodorkan sebuah helm berwarna hitam metalik ke tangan Ri. "Dih, persiapan banget lu," ungkap Ri heran...

Kisah yang Tidak Pernah Dimulai

  Tahun ajaran 2013/2014 sedang berlangsung. Masa Orientasi Siswa di jenjang Sekolah Menengah Pertama pun dilaksanakan. Tidak ada yang spesial. Pun tidak ada yang berbeda. Berjalan normal saja. Hanya saja aku tiba-tiba di tunjuk untuk menjadi ketua kelas. Bukan hal yang sulit untuk ku lakukan. Mungkin cukup siap sedia untuk menjadi pesuruh dan siap untuk ditanyai ini itu oleh beberapa guru yang mengisi matrikulasi. "Ketua kelasnya siapa ya di kelas ini?" "Saya Bu" Aku dengan penuh percaya diri mengangkat tangan kanan ku. "Boleh maju ke sini sebentar?" Tanpa menjawab langkah kakiku tergerak menuju meja guru. "Iya Bu ada apa?" "Begini ya, di kelas ini kok ada satu siswa yang dari hari pertama MOS tidak masuk, apa kamu kenal?" Sebaris nama, dengan dua kata. Oceano Tirta. Aku menggelengkan kepala. "Saya tidak kenal Bu." "Oh yasudah. Tolong ya kamu tanya siapa yang kenal di...

THE PAST IS IN THE PAST

Derap kaki perempuan berkemeja kotak-kotak tampak jelas di tempat parkir salah satu restoran cepat saji yang berada di sudut kota metropolitan. Langkahnya terburu-buru karena client nya sudah menunggu sejak 10 menit lalu. Macet sialan lah yang membuat dirinya terjebak di jalanan kota di siang yang sungguh panas ini. “Mas, mau tanya meja yang dipesan atas nama Pak Rendra di sebelah mana ya?” Tanya perempuan dua puluh lima tahun ini pada salah satu pelayan restoran sambil mencari-cari ponsel yang ia yakini pasti sudah ada di dalam ranselnya. “Di sebelah kanan mbak, tepatnya di dekat jendela.” “Ok,Mas. Ter-“ Belum selesai mulutnya ingin mengucapkan sebaris kalimat terimakasih, ia sudah lebih dulu dikejutkan dengan wajah si Pelayan yang masih dia ingat meskipun sepuluh tahun telah berlalu. Teman masa lalunya. “Terimakasih.”   Perempuan itu segera menyadarkan dirinya sebelum ingatannya kembali ke masa lalu itu lagi. “Selamat siang Pak Rendra. Mohon maaf sekali Pak ...