Kisah yang Tidak Pernah Dimulai
Tahun ajaran
2013/2014 sedang berlangsung.
Masa Orientasi Siswa di jenjang Sekolah Menengah Pertama pun dilaksanakan. Tidak ada yang spesial. Pun tidak ada yang berbeda. Berjalan normal saja.
Hanya saja aku tiba-tiba di tunjuk untuk menjadi ketua
kelas. Bukan hal yang sulit untuk ku lakukan. Mungkin cukup siap sedia untuk
menjadi pesuruh dan siap untuk ditanyai ini itu oleh beberapa guru yang mengisi
matrikulasi.
"Ketua kelasnya siapa ya di kelas ini?"
"Saya Bu"
Aku dengan penuh percaya diri mengangkat tangan kanan ku.
"Boleh maju ke sini sebentar?"
Tanpa menjawab langkah kakiku tergerak menuju meja guru.
"Iya Bu ada apa?"
"Begini ya, di kelas ini kok ada satu siswa yang dari
hari pertama MOS tidak masuk, apa kamu kenal?"
Sebaris nama, dengan dua kata. Oceano Tirta.
Aku menggelengkan kepala.
"Saya tidak kenal Bu."
"Oh yasudah. Tolong ya kamu tanya siapa yang kenal dia
dan kenapa dia tiga kali berturut-turut tidak masuk."
"Baik Bu."
Aku pun kembali ke tempat dudukku semula.
Masih ingat sekali di dalam benak nama Oceano Tirta. Secara
reflek bibirku menggumamkan namanya tiga kali berturut-turut. Asing sekali nama
itu.
Aku sama sekali tidak tahu siapa dia, namun belakangan ini
aku mulai mendengar tentangnya dari pembicaraan teman dekatnya sejak SD kalau
dia memang satu dari sekian anak bandel di sekolahnya. Aku jadi ingin tahu dia
sebenarnya seperti apa.
"Ngelamunin apa sih Ran?" Tanya teman sebangkuku
Viola.
"Ha? Nggak ngelamunin apa-apa kok Vi."
Aku pun menghalau semua pikiran yang bermuara pada orang itu
lagi.
Jam istirahat yang ditunggu-tunggu pun tiba, semua
siswa-siswi berhamburan keluar kelas dan tentu saja menuju tempat paling nyaman
dari seluruh sudut sekolah, kantin. Aku tidak sengaja berpapasan dengan seorang
siswa laki-laki bertubuh agak gempal yang kuyakini adalah teman lama dari
seseorang bernama Oceano Tirta.
“Halo, sorry sebelum kamu ke kantin boleh ngobrol sebentar?”
“Oh. Ok.”
Aku pun duduk di salah satu kursi siswa yang kebetulan
berdekatan dengan pintu kelas. Dia lebih memilih bersandar pada salah satu meja
tepat di depanku.
“Oh iya kenalin aku Mediterania, panggil aja Rania. Aku mau
nanya tentang Oceano Tirta. Kamu kenal?”
“Salam kenal Rania, aku Frans Himawan, panggil aja Frans. Oh iya aku dulu temen SD nya
Sean.”
“Sean?”
“Iya, nama panggilannya Oceano Tirta itu Sean. Maklum ya dia
emang bandel. Jarang mau kalo ada acara aneh-aneh di sekolah termasuk MOS.”
“Tapi MOS kan wajib Frans?”
“Hahaha kamu belum kenal dia. Dia orangnya emang gitu. Yaudah aku duluan ya, laper. Mau ke kantin
dulu hehe.”
“Hah? Oh yaudah makasih ya infonya Frans.”
Akupun hanya bisa mengerutkan kening atas jawaban dari
Frans. Ternyata ada ya siswa sebebal itu? Aku tidak menyangka.
Sebelum ke kantin pun aku memberanikan diri untuk menemui guru
yang tadi bertanya tentang Oceano Tirta ini. Aku menjelaskan sesuai apa yang
aku tahu dari Frans tanpa mengurangi atau menambahi informasinya. Guru tersebut
pun juga tampak heran namun sepertinya tak sepenuhnya percaya pada ucapanku.
Setelah guru itu mengucapkan terimakasih padaku, aku pamit undur diri dari
ruang guru dan menyempatkan ke kantin untuk membeli roti sandwich untuk mengisi
perutku yang sudah keroncongan ini. Minumnya? Aku selalu membawa air putih di
dalam botol berukuran 500ml.
@@@@@
Keesokan harinya MOS telah sepenuhnya usai. Aku dan
teman-teman kelas tujuh lainnya bersiap untuk menerima pelajaran di hari
pertama ini. Aku sangat antusias karena sudah rindu sekali untuk mencatat
materi di tingkat baru ini.
Tepat tiga menit sebelum bel masuk berbunyi, satu siswa
masuk kelas dengan terburu-buru dan dengan sigap mengambil satu tempat duduk
yang tersisa di bangku paling belakang dengan seorang murid bernama Refano,
temanku sejak SD. Entah mengapa aku reflek menengok ke tempat dimana dia
berada. Raut mukanya hanya datar tanpa ekspresi, namun tampak poni rambutnya
cukup menutupi sebagian dari keningnya. Matanya sipit dengan alis mata yang
cukup tebal. Ya ampun kenapa aku justru mengamatinya. Untung saja dia tidak
sadar. Tapi dia siapa?
Mata pelajaran pertama yaitu Bahasa Inggris. Pertemuan
pertama klise, guru memperkenalkan diri dan menjelaskan sedikit tentang materi
yang akan dibahas minggu depan. Tetapi untuk menghabiskan waktu di pertemuan
pertama kali ini, guru tersebut meminta semua siswa satu persatu memperkenalkan
diri dengan bahasa inggris semampu yang siswa bisa. Untung saja ketika SD aku
sudah pernah ikut bimbel bahasa inggris, jadi cukup mudah dan lancar kalau
hanya perkenalan menggunakan bahasa inggris.
Dari perkenalan inilah aku jadi tahu siswa yang sedari tadi
ku amati adalah Oceano Tirta atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Sean. Oh jadi
ini ya yang namanya Sean, batinku.
@@@@@
Tidak terasa sudah 6 bulan aku berada di kelas satu Sekolah
Menengah Pertama ini, tidak ada yang berbeda rasanya. Hanya saja aku merasa
lebih rajin pada tingkat SMP ini dibandingkan ketika aku SD yang lebih
mementingkan bermain daripada belajar.
Hari ini sepertinya menjadi hari yang cukup berkesan bagiku
karena salah satu mata pelajaran favoritku yaitu sejarah akan mengadakan sebuah
kegiatan belajar di luar sekolah yang akan membahas tentan manusia purba.
Kebetulan sekali di kota tempatku tinggal ada museum manusia purba yang sungguh
legendaris. Aku semakin tidak sabar.
“Aku ga sabar Vi mau ke museum?” Kataku pada Viola, teman
sebangkuku.
“Aku malas Ran, mending juga di sekolah pelajaran kayak
biasanya aja.”
“Ah, kamu vi. Kapan kamu tertarik sama dunia luar? Kayaknya
ga pernah.”
“Memang aku tidak tertarik Ran.”
Viola memang tidak pernah tertarik untuk belajar di luar
lingkungan sekolah. Dia tertalu malas untuk memikirkan hal-hal yang dianggapnya
tidak penting.
@@@@@
Hari yang kutunggu-tunggu pun tiba, bahkan dari rumah aku
sudah menyiapkan buku kosong khusus untuk mencatat hal-hal penting ketika
berada di museum nanti. Aku bahkan berangkat ke sekolah lebih awal dari
biasanya.
Setibanya di sekolah aku bertemau dengan teman-teman yang
juga tampak antusias kecuali oknum bernama Viola ini. Raut mukanya hanya datar saja,
sama sekali tidak antusias. Aku sih sudah tidak heran. Kalau bisa mungkin hari
ini, tanggal ini sudah dihapus dari kalnder oleh Viola. Setidak antusias itu
dia.
Satu angkatan yang
kurang lebih berjumlah 150 orang pun diberangkatkan dari sekolah menggunakan
6 minibus yang masing-masing berisi 25 orang. Tanpa ku sadari, Sean duduk di
samping kiriku bersama Frans. Sedangkan aku duduk bersama Viola.
Sepanjang perjalanan aku hanya membayangkan museum itu
karena memang aku belum pernah kesana sebelumnya. Bayangan akan belajar disana
membuatku tiba-tiba menyunggingkan senyum di bibir.
“Ran, lagi mikir apa sih senyum-senyum mulu daritadi?” Tanya
Viola padaku yang sedari tadi membayangkan betapa serunya belajar di museum.
“Lagi bayangin aja serunya belajar di museum.”
“Yaelah gitu doang.”
Setelah sampai di museum kami langsung dibagi untuk
berkelompok menyusuri museum yang sebenarnya tidak begitu besar ini. Aku sangat
antusias bahkan mencatat hampir semua yang dikatakan oleh guide yang bekerja di museum ini.
Dua jam telah terlalui, guru pun menginformasikan bahwa
siswa sudah cukup belajar di museum dan diminta untuk kembali berkumpul di
pendopo bagian depan. Akupun berjalan setengah terburu-buru ke pendopo bersama
Viola.
“Ran, tunggu ran. Aku haus. Boleh minta air minum nggak?” Viola meminta air minum kepadaku karena dia tahu aku selalu membawa air minum.
“Iya, bentar aku ambilin dulu dari tas.”
Aku merogoh tempat minum di samping tas ranselku. Namun, aku
sama sekali tak mendapati botol minum yang ku bawa dari rumah tadi.
“Kok ga ada ya Vi.”
“Masa sih Ran? Bukannya tadi pas berangkat ada ya?”
“Ada kok Vi, yang masukin ke tempatnya kan aku sendiri.
Mungkin jatuh kali ya Vi?”
“Mungkin.”
Ah iya, mungkin jatuh, pikirku. Aku dan Viola kembali
berjalan ke pendopo museum untuk ikut berkumpul dengan teman-teman. Viola sudah
berjalan lebih dulu untuk meminta air minum ke teman yang lain karena sudah
kepalang haus dan kering tenggorokannya.
Baru saja menginjak dua tangga pendopo aku dikagetkan dengan
sebotol air minum yang kuyakini adalah milikku sedang digenggam oleh tangan
seseorang. Aku mendongak untuk melihat mukanya dan ternyata Sean.
“Nih, makasih ya.”
Setelah botol minum itu berpindah ke tanganku, ia pergi
tanpa mengucap kata-kata lagi. Aku hanya diam masih mencerna kalimatnya. Lalu bagaimana
bisa botol minumku bisa dibawanya? Air di botol itu berkurang separuh dari isi awalnya karena
aku ingat sekali tadi mengisinya secara penuh.
“Ran, ngapain masih di situ? Ayo cepetan udah pada kumpul
ini.” Viola menyadarkanku dari lamunan.
“Oh iya.”
Kami pun berkumpul dan bersiap untuk kembali ke sekolah. Sudah
cukup belajar di museumnya.
Saat kembali ke minibus aku masih menggenggam botol minumku
tadi sambil sesekali melirik Sean. Tetapi tidak ada yang mencurigakan dari
gerak geriknya. Pun tak terlihat niatannya untuk menatapku. Sepanjang perjalanan
aku hanya melamunkan hal yang sebenarnya tidak penting ini. Bahkan ketika
sampai di sekolah pikiranku tidak mau berpindah dari hal itu.
@@@@@
Sebulan setelah kunjungan ke museum itu hidupku
normal-normal saja. Tidak ada yang berbeda.
Hari ini hari selasa, mata pelajaran pertama adalah
matematika. Mata pelajaran favoritku. Bahkan tiga perempat bagian di buku LKS
Matematika sudah ku kerjakan. Betapa rajinnya aku saat itu.
Sekarang, buku LKS ku sedang dipinjam oleh Reon. Ia ingin
menyocokkan jawabannya dengan jawabanku. Siapa tahu ada yang salah diantara
jawaban kami. Hal ini sudah biasa terjadi, asalkan bukan saat ujian ya.
Pak Toni sebagai guru matematika sedang menjelaskan materi,
lalu beliau akan menunjuk secara random siswa-siswa yang dianggap tidak fokus
atau mengantuk di mata pelajarannya untuk mengerjakan soal di buku LKS dan
menuliskan jawabannya di papan tulis.
“Sean, keliatannya kamu semangat sekali hari ini. Ayo kamu
jawab halaman 34 di LKS no. 1-3.”
Raut muka Sean tampak sekali kaget. Bagaimana dia semangat
dengan mata pelajaran ini? Berangkat sekolah saja keliatannya dia malas.
“Sssttt...Ssttt...Ran.” Aku menengok karena merasa dipanggil dengan suara samar. Ternyata Reon Satya.
“Kenapa?” Aku menjawabnya dengan suara sepelan mungkin agar
tidak mengganggu konsentrasi teman-teman dalam belajar.
“Itu jawaban kamu di bawa Sean.” Reon pun berbisik kepadaku
sambil menunjukkan LKS ku yang sudah robek separuh. Aku memang biasa mencatat
jawaban di kertas lalu ku tempelkan pada lembar LKS.
Aku dengan cepat mengangkat tangan untuk menyampaikan hal
ini pada Pak Toni.
“Pak...”
“Iya, ada apa?”
“Mohon maaf sebelumnya pak, tapi kertas yang dibawa Sean itu
punya saya Pak.”
Pak Toni mengernyitkan dahi, sedangkan Sean berhenti menuliskan
jawaban. Pak Toni pun berjalan menghampiri Sean.
“Benar begitu Sean?”
Sean hanya menunduk tanpa berani menatap Pak Toni yang
sedang mengambil kertas itu dari genggaman tangan Sean.
“Disini ada tulisan nama Mediterania Safia Indri, kenapa ada
di kamu?”
Sean sama sekali tidak menjawab.
“Pak, maaf tapi sebenernya tadi saya yang pinjam LKS Rania
untuk mencocokkan jawaban saya, siapa tahu ada yang salah pak. Tapi tiba-tiba Sean
dari belakang mengambil kertas jawaban Rania dan sekarang LKS milik Rania robek
Pak” Reon membantu menjelaskan.
“Benar begitu Sean?” Pak Toni menanyakan hal tersebut pada
Sean.
Sean hanya mengangguk sambil menjawab pelan “I..ya Pak.”
“Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan sekarang?”
“Iya pak.”
“Sekarang kamu minta maaf di depan teman-temanmu karena
telah melakukan hal yang tidak baik. Jangan pernah diulangi lagi. Minta maaf
juga sama Mediterania karena sudah merobek kertasnya dan secara tidak langsung mencuri jawaban dia.”
“Baik Pak. Saya, Oceano Tirta meminta maaf karena sudah
melakukan hal yang kurang baik dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Saya juga meminta maaf pada Mediterania karena telah lancang merobek bukunya dan mengambil jawabannya.”
Tanpa disangka Sean berjalan ke tempat dudukku dan
menjulurkan tangan kanannya pertanda minta maaf secara langsung. Aku pun
menerima jabatan tangannya.
“Maaf ya Ran, nanti buku mu aku bawa pulang dan aku perbaiki.”
“Iya gapapa, jangan diulang lagi ya. Ga perlu kok, nanti
biar aku sendiri yang memperbaikinya.”
“Makasih ya.”
Sean pun kembali ke depan dan diberi wejangan panjang lebar
oleh Pak Toni. Ia hanya mengangguk saja. Entah memang mengerti atau hanya agar
cepat selesai saja aku juga tidak tahu.
@@@@@
Hari-hari pun berlalu seperti biasa. Hari ini guru sedang
sibuk mengadakan rapat untuk menyiapkan
hal-hal yang berkaitan dengan perayaan Hari Kartini, sehingga semua kelas hanya
diberikan tugas tanpa ditunggu oleh guru. Sama seperti kelasku. Mata pelajaran
IPA/Sains hanya diberikan tugas untuk mengerjakan LKS halaman 32-34 saja. Tetapi
semua siswa merasa tidak ada tugas dan justru bersantai-santai. Ada yang
bernyanyi-nyanyi di kelas, ada yang ke kantin, ada yang tidur-tiduran di kelas,
ada yang ngobrol tentang artis korea, bermacam-macam deh pokoknya. Sedangkan aku memilih untuk tetap
mengerjakan tugas.
“Raniaaa....Rannnn.”
Aku hapal sekali siapa yang memanggil, Refano. Aku menoleh.
“Iya Fano, ada apa?”
“Ran, bmmmmph.”
Tampak Sean yang merupakan teman sebangku Refano sedang
berusaha menutup mulut Refano. Aku hanya mengernyitkan kedua alisku. Setelah
berhasil dari serangan Sean, Refano berteriak sekencang mungkin bahkan sampai
semua siswa yang berada di dalam kelas
mendengarnya.
“SEAN SUKA SAMA KAMU RANIA.”
Satu detik....
Dua detik....
Tiga detik....
“Cieeee cieee Raniaaaaa.”
“Cieeee cieee Sean ternyata diem diem suka sama Rania.”
Teman-temanku saling menyahutiku dan Sean.
Aku bingung harus bereaksi bagaimana selain diam mematung
menghadap Sean. Tetapi tak bohong bila jantungku tidak bisa diajak kompromi,
justru berdebar hebat. Sean tampak malu-malu. Setelah memalingkan muka darinya,
aku tersenyum. Bahkan ngin tertawa rasanya, mana mungkin Sean suka padaku? Memangnya
aku ini siapa?
Tidak memungkiri dulu ketika awal-awal memang cukup
mengagumi penampilannya haha. Cukup boyfriend material menurutku. Konyol sekali
pikiranku ini.
Sejak saat itu aku selalu canggung ketika berinteraksi
dengannya. Bahkan menyapanya saja aku sungkan. Dia pun juga begitu, tidak
berani menyapaku lebih dulu. Bahkan terkesan menghindariku.
Padahal sebenarnya
aku biasa-biasa saja. Saat kelas dua SMP dia punya pacar dan memperlihatkannya
di depanku, aku juga biasa saja. Memangnya aku harus apa? Cemburu? Memangnya
aku punya hak untuk itu? Tidak sama sekali.
Mungkin ini yang namanya kisah yang tidak pernah dimulai.
Aku tidak pernah memulai.
Sean tidak pernah memulai.
Hanya kisah tidak jelas anak kelas satu SMP.
-SELESAI-
Komentar
Posting Komentar