THE PAST IS IN THE PAST
Derap kaki perempuan berkemeja kotak-kotak tampak jelas di
tempat parkir salah satu restoran cepat saji yang berada di sudut kota
metropolitan. Langkahnya terburu-buru karena client nya sudah menunggu sejak 10
menit lalu. Macet sialan lah yang membuat dirinya terjebak di jalanan kota di
siang yang sungguh panas ini.
“Mas, mau tanya meja yang dipesan atas nama Pak Rendra di
sebelah mana ya?” Tanya perempuan dua puluh lima tahun ini pada salah satu pelayan
restoran sambil mencari-cari ponsel yang ia yakini pasti sudah ada di dalam
ranselnya.
“Di sebelah kanan mbak, tepatnya di dekat jendela.”
“Ok,Mas. Ter-“ Belum selesai mulutnya ingin mengucapkan
sebaris kalimat terimakasih, ia sudah lebih dulu dikejutkan dengan wajah si
Pelayan yang masih dia ingat meskipun sepuluh tahun telah berlalu. Teman masa
lalunya.
“Terimakasih.” Perempuan itu segera menyadarkan dirinya
sebelum ingatannya kembali ke masa lalu itu lagi.
“Selamat siang Pak Rendra. Mohon maaf sekali Pak saya datang
sangat terlambat. Jakarta cukup ramai siang ini.”
“Iya Ibu Yura saya memaklumi, Toh saya juga baru saja
sampai. rupanya kita sama terkena macet di siang bolong.”
Ya, perempuan itu bernama Yura. Pekerja kantoran yang sedang
diutus oleh atasannya untuk menyerahkan berkas-berkas Memorandum Of Understanding (MoU) atas dasar kerja sama antara
perusahaan tempatnya bekerja dengan perusahaan milik Pak Rendra.
“Permisi, maaf menganggu ini pesanan cappucinonya. Apa ada
yang ingin dipesan lagi?”
“Bu Yura, silakan kalau ingin memesan minum.”
“Oh iya pak. Mas, saya pesan—“
“Strawberry juice tanpa gula sepertinya segar di siang hari
yang panas ini.”
Ternyata laki-laki iki masih saja mengingat minuman yang
sejak dulu sudah menjadi minuman favorit Yura.
“Boleh.”
“Baik, permisi.”
Pak Rendra masih mengernyitkan keningnya heran sejak
beberapa detik lalu. Mengapa pelayan yang justru terlihat memesankan minuman
untuk pelanggannya sendiri? Aneh.
“Mungkin itu minuman yang paling recommended untuk siang
hari panas seperti sekarang ini Pak.”
“Oh iya, mungkin.”
Yura dan Pak Rendralanjut membahas tentang kerjasama
perusahaan. Namun. Tak lama datanglah pelayang itu lagi dengan segelas
strawberry juice yang sungguh menggoda.
“Mohon maaf mengganggu lagi, pesanan strawberry juice tanpa
gula sudah siap.”
“Terimakasih.” Ucapan terimakasih kedua dari mulut Yura
membuat pelayan itu menyunggingkan senyum lebar yang tentu saja membuat Yura
masih terus-terusan menatapnya.
“Selamat menikmati. Saya permisi.”
Punggung laki-laki dengan tinggi tidak lebih dari seratus
tujuh puluh itu kian menjauh dari pandangan Yura. tapi sesekali ia masih
mencuri pandang apa yang dilakukan oleh pelayan itu.
“Ok bu, saya rasa semua sudah jelas tertera dalam MoU. Saya
sudah setuju dengan isi perjanjiannya. Sesuai dengan apa yang sudah saya
bicarakan dengan Bapak Louis minggu lalu.”
“Baik Pak, saya berharap semoga jalinan kerja sama diantara
perusahaan kita akan berjalan lancar dan berlanjut kedepannya.”
Pak Rendra pun menandatangi MoU tersebut dan sesekali
menyeruput cappucinonya yang sudah mendingin bermenit-menit lalu.
“Bu, sepertinya saya harus pergi lebih dulu karena saya
masih ada urusan-urusan dengan client lainnya. Kalau begitu saya permisi.”
“Baik pak, terimakasih banyak atas waktunya.” Yura berdiri
dan berjabat tangan dengan Pak Rendra sebagai ungkapan terjalinnya kerja sama
antara dua perusahaan.
Setelah Pak Rendra keluar dari Restoran tersebut, Yura
kembali duduk dan membereskan beberapa kertas yang masih ada di atas meja. Tak lupa
ia menyeruput strawberry juice nya sampai tandas tak tersisa.
Langkahnya pelan menuju meja kasir. Yura sudah menggenggam
uang seratus ribuan untuk membayar minumannya.
“Saya mau membayar untuk pesanan atas nama Pak Rendra mbak.”
“Mohon maaf ibu, tetapi pesanan di meja atas nama Pak Rendra
sudah dibayar oleh beliau.”
“Oh, oke kalau begitu mbak, terima kasih.”
Lumayan. Uang seratus ribuan yang tadi digenggamnya lantas
ia masukkan ke dalam saku celana kainnya.
Sebelum keluar dari restoran, mata Yura jeli melihat postur
tubuh laki-laki yang sepuluh tahun lalu berarti baginya. Dia tidak berubah. Kenangan
demi kenangan justru terlintas di benak Yura tanpa permisi.
Yura melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda menuju
mobilnya. Tanpa pikir panjang, ia tancap gas ke kantor lagi untuk menyelesaikan
kerjaannya yang menumpuk.
***
Malam minggu Yura sungguh sangat kelam. Harapannya untuk “me
time” ia urungkan karena tadi tepat pukul empat sore, bosnya dengan gampang mengatakan
ada meeting dadakan di Bandung. Padahal, jalanan Jakarta-Bandung ketika weekend
sudah pasti macet. Benar saja. Untungnya, meeting yang dimulai pukul delapan lebih
lima belas menit tersebut bisa berjalan lancar sehingga pukul sembilan lebih
tiga puluh lima menit Yura sudah mengendarai mobilnya lagi untuk kembali ke
Jakarta.
Sesampainya di jalanan metropolitan, perut keroncongan Yura
mendadak minta diisi. Yura memarkirkan mobilnya di sebuah restoran cepat saji
yang lima hari lalu didatanginya untuk urusan pekerjaan itu. Bukan tanpa sebab
Yura memilih restoran itu. Pertama, restoran itu berada di sisi kiri jalan
sehingga memudahkannya tanpa harus menyebrang atau putar arah dulu. Kedua,
restoran itu pasti masih buka karena memang 24 jam. Ketiga, karena perutnya
sudah melilit jadi daripada maagh nya kambuh di pagi hari lebih baik makan dulu
bukan?
“Saya pesan nasi goreng ayam satu dan es teh tanpa gula satu
ya mbak?” katanya pada pelayan yang sudah berdiri di samping mejanya.”
“Baik Bu, ditunggu pesanannya.”
Sambil menunggu pesananya, Yura mengamati sekeliling
restoran itu. Hanya ada dua orang pembeli selain dirinya. Tiba-tiba dari arah
depan, datang seorang laki-laki dengan hoodie abu-abu serta menenteng ransel
hitamnya.
“Boleh saya duduk disini?”
Seketika pandangan Yura beralih pada laki-laki ini. Parasnya
terlihat lelah. Baru selesai bekerja mungkin.
“Boleh, tapi sebelumnya ada perlu apa ya?”
“Aku tau kamu pasti masih inget aku.”
“Maaf. Tapi—“
“Reynan Pratama.”
Hening diantara mereka berdua. Yura bingung harus memberi
respon seperti apa. Sedangkan Rey masih setia mengamati ekspresi Yura yang
jelas masih terkejut.
“Bagaimana kabarmu Ra?”
“Baik.”
Hening kembali. Yura masih enggan untuk membuka pembicaraan
dengan teman lamanya ini.
“Permisi mbak, ini pesanannya sudah jadi.”
“Terimakasih.”
Pelayan yang mengantar sepiring nasi goreng ayam dan segelas
teh tanpa gula membuyarkan keheningan diantara mereka.
“Kerja dimana?”
“Jakarta.”
“Saya tahu, disini juga Jakarta. Maksud saya kamu sekarang
kerja dimana?”
“Sepertinya tidak semuanya tentang saya harus kamu tau ya.”
“Oh. Oke. Saya ngga tau kenapa saya bisa dengan lancang mau
duduk di depan kamu. Tapi yang jelas kamu harus tau kalau saya ngga pernah bisa
lupain kamu.”
“Maaf ya Rey sebelumnya, saya rasa semuanya yang berhubungan
sama masa lalu tidak perlu dibahas lagi. Saya sudah nyaman dengan kehidupan
saya, begitupun kamu.”
“Tapi percayalah Ra saya masih mau berteman sama kamu. Saya ngga
pernah bisa menemukan teman sebaik kamu yang bisa mendengar semua keluh kesah saya,
yang mau saya ajak makan di pinggir jalan, yang ngga peduli saya mau seabsurd
apa, yang—“
“Stop Rey. Selera makan saya hilang rasanya kamu bahas
hal-hal itu lagi. Maaf tapi saya sudah lupa sama semuanya.”
“Please Ra, boleh kan kita tetep temenan.”
“Maaf saya ngga bisa. Sampai kapanpun tidak pernah bisa.”
Yura membereskan barang-barangnya diatas meja. Nafsu makannya
hilang seketika. Sepiring nasi goreng ayamnya tidak tersentuh, segelas teh
tanpa gula nya diam menganggur. Langkah Yura kian mantap menuju kasir, membayar
semua pesanannya yang belum tersentuh.
Yura tidak mampu membendung air matanya. Semua kenangannya
terputar kembali. masa-masa sekolah yang hampir setiap hari ditemani oleh
seseorang bernama Rey. Sampai pada akhirnya semuanya harus selesai karena Rey
pergi tanpa kabar. Bagi Yura itu masa tersulit, apalagi semenjak kepergian Rey
masalah demi masalah justru datang pada Yura. Disaat Yura sangat membutuhkan
kehadiran Rey di sisinya, Rey justru tidak ada. Sakit memang tetapi semuanya
sudah terlewat. Bagi Yura, anything happens for a reason.
Semuanya sudah terjadi, tidak ada yang perlu diulang. Genangan
air mata harus disudahi. Yura mengusap air matanya, ia lantas memutuskan untuk
pulang ke rumahnya. Semuanya sudah usai. Yura tidak mau mengulang semuanya
lagi. Rey biarkan tetap ada di dalam masa lalunya. Yura sudah bahagia dengan
dirinya yang sekarang. Kehidupannya jauh lebih baik sekarang. Bahkan tanpa
seorang Rey justru dia bisa meraih apa yang dia inginkan.
Tidak ada pihak yang salah maupun yang benar. Garis hidup
perlu dijalani sesuai dengan apa yang terjadi. Tidak ada yang perlu disesali. Semuanya
memang harus diakhiri.
Baguss !!!
BalasHapusSemangat terus bikin karyanya yaa
Terima kasih.
HapusSiapp.
Mantap jiwaaa
BalasHapusLanjutkan terus bosqq
Siappp
Hapus