PARSIAL


Dering ponsel membuat lamunan pagi Vara buyar, ia bergegas membuka ponselnya dan membaca pesan yang datang dari Reina, sahabat sekaligus teman sekelas Vara dari awal Masa Orientasi Kuliah. Sekarang, mereka telah menduduki semester 3.

Aku udah di parkiran nih, kapan kamu otw?
Oke, otw

Begitulah mereka setiap hari. Janjian untuk bertemu di parkiran fakultas untuk jalan bersama menuju kelas mereka.

Pagi ini sebenarnya Reina agak tidak enak badan, tetapi ia tak bisa untuk membolos mata kuliah kali ini karena ia masih memiliki kewajiban untuk presentasi. Setelah Vara sampai di kampus dan memarkirkan motor, ia berjalan mendekati posisi Reina. Vara sudah hapal dimana tempat Reina menunggunya, tepatnya di bawah pohon beringin ketiga terhitung dari gerbang parkiran fakultas.

“Ayok Na.” Vara datang sambil menepuk pelan bahu Reina.

“Eh ayokk. Tepat 10 menit lagi dosen pasti udah masuk kelas. As Always, On Time is a must for Mrs. Sava.” Balas Reina

Baru tujuh langkah setelah dari posisi semula, tiba-tiba tubuh Reina lemas dan pingsan mendadak.

“YA AMPUN REINA” Vara memekik lantang sampai seseorang yang berjalan di depannya menoleh ke arahnya dan Reina. Vara menoleh ke kanan kiri. Lengang. Tak ada satu orangpun kecuali seseorang di depannya. Tidak ada pilihan lain bagi Vara.

“Mas, bisa bantuin saya?”

Tanpa menjawab, seseorang tersebut berjongkok di depan Vara. Betapa terkejutnya Vara ketika melihat siapa orang yang akan membantunya. Naka Permana. Seorang laki-laki yang berhasil membuat Vara selalu berdecak kagum karena segudang keistimewaanya. Menghiraukan itu semua, mereka saling membantu untuk membawa Reina keluar kampus dan membawanya ke klinik terdekat.
Setelah sampai di klinik, mereka menunggu di ruang tunggu sementara dokter jaga sedang mengecek keadaan Reina di dalam.

“Terimakasih atas bantuannya Mas.”

“Sama sama. Naka Permana.” Jawabnya sambil mengulurkan tangannya di depan Vara.

Beberapa detik tatapan Vara masih setia pada uluran tangan Naka. Vara masih ragu untuk menerima uluran tangan Naka.

“Apa ada keluarga dari Saudari Reina?”

“Saya dok.” Vara menunjuk dirinya sendiri dan menghampiri dokter yang tadi mengecek keadaan Reina.


“Saudari Reina hanya kelelahan dan sekarang sudah siuman. Nanti sudah boleh pulang setelah resep saya berikan dan obat ditebus di apotek. Baiklah saya permisi.”

“Baik dok terimakasih banyak.”

Vara menghampiri Naka yang ikut-ikutan berdiri saat dokter mencari keluarga Reina. Meskipun Naka tidak mengetahui nama dua orang yang ditolongnya, tetapi Naka reflek berdiri ketika Vara berdiri.

“Permisi Mas, saya mau ngecek keadaan teman saya dulu.”

“Oh oke. Silakan.”

Saat Vara pamit untuk menemui Reina terlebih dahulu, Naka buru-buru mengecek ponselnya yang sedari tadi belum ia sentuh. Tak disangka, rentetan pesan masuk ke dalam ponselnya, kebanyakan dari teman sekelasnya yang memintanya untuk cepat-cepat sampai di kelas karena quiz akan diadakan sebentar lagi.

Naka menepuk jidat karena melupakan quiz mingguan yang selalu diadakan dosen untuk salah satu mata kuliahnya. Tanpa pikir panjang Naka mengeluarkan sticky notes dari dalam tas ranselnya dan menuliskan beberapa kalimat.

Tak berapa lama, Vara keluar dari ruang rawat Reina untuk mencari keberadaan Naka, setaunya tadi Naka masih duduk manis di ruang tunggu. Sampai matanya menatap sticky notes berwarna biru muda  yang tertempel di bangku ruang tunggu yang tadi didudukinya bersama Naka.

Maaf, saya harus kembali ke kampus. Ada kuis. Saya harap suatu saat saya bisa tahu nama kamu
-Naka-

Lengkungan senyum seketika tampak di kedua sudut bibir Vara, ia menyimpan sticky notes yang diberikan oleh Naka ke dalam saku celana jeans nya.

Vara lalu berjalan menuju apotek dan menebus obat untuk Reina lalu membantu Reina untuk pulang ke kost nya. Tak apalah ia tidak masuk kelas kali ini. Demi Reina.

“Oh iya, tadi siapa yang bantuin kamu bawa aku ke rumah sakit?”

“Mas Naka.”

“Hah?”

“Kenapa sih Na malah jadi tukang keong.”

“Ya masa Mas Naka sih Ra, yang bener aja?”

“Bener Na, lagian yang ada di area parkiran cuma dia aja.”

“Pingsanku berarti berkah buat kamu ya Ra?”


 “Apasih Na, pingsan kok berkah? Seneng sekarang aku bolos gara-gara kamu gini? Udah ah Na jangan bahas itu dulu ya. Kamu mendingan istirahat.”

Akhirnya, Vara menemani Reina sampai pukul 2 lebih 10 siang.

“Na, aku balik dulu ya, jangan lupa makan. Tadi aku udah sempet beli bubur. Obatnya juga jangan lupa diminum. Istirahat yang cukup. Kalo besok belum bisa masuk gausah dipaksa. Motor nanti biar aku yang ambil ke kampus sama Lisa. Aku pulang dulu.”

“Iya Iya. Aku ga bisa bayangin kalo Mas Naka yang sakit kamu bakal seperhatian apa?”

“Ngomong apa sih Na, yang perhatian bukan aku lah Na, tapi orang tuanya.”

***                                                                     
Malamnya, Vara mendapat notifikasi update postingan Naka di media sosial. Jangan heran, karena Vara memang mengaktifkan notifikasi postingan Naka sejak dia tau akun Naka yang memang sudah dikaguminya sejak dulu. Bahkan Vara rela menghabiskan kuotanya untuk membuat second account hanya untuk mengikuti update dari seorang Naka Permana. Gila memang. Menurut Vara, Naka adalah tipe idealnya. Lagipula dua orang ini memiliki hobby yang sama yaitu berkutat dengan buku buku-buku tebal meskipun berbeda genre. Mereka juga sama-sama suka merangkai kata-kata indah untuk dibagikan ke akun media sosial masing-masing. Postingan Naka beberapa detik lalu berupa sebuah buku berjudul 90 Menit Bersama Machiavelli lengkap dengan caption:

Secangkir kopi dan buku 90 Menit Bersama Machiavelli menjadi penenang hari ini.

Laptop di depan Vara masih menyala menampakkan tugas kelompoknya, tetapi matanya justru mengarah pada ponsel pintarnya. Vara merasa semesta semakin mendekatkannya pada Naka lewat insiden pingsannya Reina tadi pagi. Namun, disisi lain perasaan Vara takut. Takut jika sampai Naka tahu siapa dirinya. Vara belum siap.

Vara mengunci layar ponselnya dan lanjut tenggelam dalam tugasnya. Walau bagaimanapun tugas memang lebih penting daripada Naka bukan? Tak lupa secangkir Matcha yang ternyata sudah berangsur-angsur  mendingin jadi satu-satunya teman Vara malam ini.

***
Hari ini hanya satu matkul yang harus diikuti oleh Vara, kelas pun telah usai, sedangkan Reina tadi berpamitan kepada Vara karena harus menginap di rumah tantenya tatkala tantenya tahu Reina sedang tidak begitu sehat. Vara hanya mengiyakan apa yang dikatan Reina. Tapi tak dapat dipungkiri dia pasti bakal kesepian. Hidup tanpa mendengar kata-kata ejekan dari Reina rasanya hambar.

Fan Cafe menjadi tempat pilihan Vara untuk mengusir kesepian mendadak. Duduk sambil memegangi novel tebal yang akhir-akhir ini menyita waktu Vara untuk terus menyelami cerita di dalamnya. Pesanannya belum juga datang, mungkin karena makin banyaknya pengunjung yang datang-pergi silih berganti di Cafe ini. Mengusung konsep Vintage menjadi daya tarik bagi pengunjung setia Cafe, meskipun kebanyakan memang mahasiswa di kampus yang sama dengan Vara.

Vara duduk di kursi dekat jendela, favoritnya. Alasannya klise, agar ia bisa leluasa memandang ke depan Cafe tepatnya di bagian outdoor, masih bagian dari Cafe namun pengunjung bebas mengepulkan asap sampoerna disana. Sedangkan di bagian indoor tampak jelas ruangan ber-AC dengan lambang “NO SMOKING” bertebaran dimana-mana.


Vara kali ini masih terpesona dengan kisah manis seorang pemuda yang berlayar demi melupakan cinta pertamanya, sampai-sampai tak sadar sejak sepuluh menit yang lalu ada seorang laki-laki yang menajamkan pandangan kepadanya sambil mengepulkan asap dan memegang secangkir kopi. Setelah dirasa cukup, kepulan asap mulai hilang dari mulut laki-laki itu serta tangannya yang sigap menekan puntung diatas asbak, tanpa sadar, derap langkahnya menuju ke arah Vara.

“Lagi baca buku apa?”

Vara mendongkakan kepalanya dan menengok ke kanan. Agak terkejut dengan kehadiran Naka yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya.

“O-oh. Novel.”

Hening. Naka masih berdiri di samping Vara, sedangkan Vara masih mencoba untuk menstabilkan denyut jantungnya yang semakin lama justru berpacu makin cepat.

“Permisi Mbak, ini pesananya.”

“Oh iya makasih, sekalian saya mau bayar ya. Saya buru-buru.”

Vara menutup novelnya, lalu mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan dan selembar dua ribuan untuk membayar matcha latte yang tidak sempat diminumnya.

“Saya permisi.”

Naka hanya mengerutkan kening. Bingung kenapa tiba-tiba perempuan yang belum dia ketahui namanya seolah menghindar saat bertemu dengannya dan mengapa pula langkahnya justru menuju perempuan ini.

Vara berjalan tergesa-gesa,  bahkan setengah berlari. Entah mengapa kehadiran Naka tidak baik sekali untuk kesehatan jantungnya sehingga mengharuskan ia yang sedang santai harus cepat-cepat pergi sebelum menikmati secangkir matcha favoritnya. Huh. Dua puluh dua ribunya terbuang sia-sia.

***
Keesokan harinya Vara berangkat ke kampus sendirian karena Reina ada beberapa kegiatan yang mengharuskannya untuk berangkat lebih awal. Saat sedang di depan TU fakultasnya, mata Vara menatap seorang laki-laki yang baru saja turun dari tangga, Naka. Naka sepertinya terburu-buru sampai tidak melihat keberadaan Vara, syukurlah jadi Vara tidak perlu menghindar dari Naka. Saat Naka sudah berjalan menjauhi Vara, ia malah menatap punggung tegap Naka sembari tersenyum. Sepuluh detik menatap punggung Naka masih kurang lama rasanya sampai ada satu mahasiswi entah siapa namanya menegur Vara.

“Mbak kalo ngelamun jangan disini. Ini banyak orang yang mau lewat loh.”


Vara baru tersadar dan melanjutkan langkahnya menuju kelas.

***
Kebetulan jadwal ngampus Vara hanya dari pagi sampai sore saja, malamnya Vara bisa bebas di kos. Rebahan & main social media atau membaca novel sudah jadi rutinitas malam Vara, apalagi kalau sedang sepi tugas begini. Vara memilih menuntaskan novel yang belum selesai dibacanya kemarin. Tetapi dering notifikasi ponselnya membuatnya harus menunda kelanjutan cerita di novelnya. Saat mengecek notifikasi dari siapa.

Mata Vara membulat sempurna saat melihat notifikasi direct message dari akun bernama @naka_p
Isinya:

Haloo, terima kasih ya atas like nya di semua postingan saya. Salam kenal.

Hanya kalimat simple yang membuat jiwa dan raga Vara melayang ke atas langit menembus awan. Vara nyaris melompat diatas kasurnya kalo tidak ingat ini kasur bukan miliknya. Ia dengan cepat membalas direct message dari Mas Naka-nya itu.

Oh iya sama-sama.

Sebagai gantinya saya follow back ya.

Iya terimakasih.

Kamu juga suka bikin kata-kata ya?

Iya mas sejak kenal kamu (delete)

Oh iya baru sempat bikin tiga.
(Just Read)

Vara agak kesal karena pesannya tak kunjung dibalas. Hanya dibaca saja. Payah.

Tetapi Vara masih bersyukur setidaknya sudah selangkah lebih maju dari sebelumnya. Setelah dirasa tidak akan ada balasan lagi dari Naka, Vara meletakkan poselnya di meja dan dia melanjutkan membaca novel sambil terkantuk-kantuk.

***
Vara baru bangun dari tidur, lalu mengucek matanya perlahan. Saat memandang jarum jam sudah menunjukann angka 08.20 padahal kelas Vara dimulai pukul 08.40, Vara menepuk jidat dan tergesa menuju kamar mandi.

Siap-siap dengan waktu dua puluh menit cukup membuat Vara kelabakan.

Sampai di kelas, ternyata dosen sudah bersiap untuk membuka perkuliahan.

“Maaf pak, masih boleh masuk?”

“Masih, silakan.”


Vara mendengus setelah mendudukkan diri di bangku depan Reina. Untung dosen kali ini sangat baik hati sekali, pikir Vara.

“Kamu kemana aja sih Ra? Kok sampek telat.”

“Kesiangan tadi. Ya Ampun maaf ya Na.”

“Iya-iya gapapa. Santai.”

***
Vara dan Reina sedang berada di kantin fakultasnya, menunggu jam kuliah selanjutnya yang kira-kira masih 45 menit lagi. Vara menceritakan semua yang terjadi padanya semalam pada Reina.

“Ra, kamu beneran?”

“Ya iyalah ngapain bohong Na.”

“Duh udah selangkah lebih maju aja ini. Hahaha. Tapi kalo bisa mending kamu kenalan aja sama Mas Naka, ga ada salahnya loh Ra. Ya jangan terus-terusan jadi secret admirernya dia aja gitu.”

“Pengen sih, tapi nggak sanggup kalo nanti makin deket sama Mas Naka. Hahaha. Aku halu banget ya Na?”

Nothing is impossible, anything can happen as long as we believe.

“Kesambet apaan Na kok lancar bahasa inggris?”

“Hehe tadi malem abis baca quotes-quotes yang pake bahasa inggris Ra, biar gaul. Hahaha.”

Tiga puluh menit mereka habiskan hanya untuk membicarakan Naka. Kurang kerjaan memang. Tapi Vara suka.

***
Seminggu ini Vara memang sedang sibuk-sibuknya nugas, ada kegiatan organisasi, jadi relawan di panti asuhan. Sampai-sampai dia sama sekali tidak menggubris notifikasi tentang Naka sedikitpun. Hebat.

Saat ini Vara ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya dan langsung tidur. Badannya rasanya sudah remuk redam. Tetapi tangannya justru mengarah ke ponsel pintar di atas meja yang menganggur.

Iseng membuka second account miliknya dan melihat postingan seorang Naka Permana. Betapa terkejutnya saat melihat postingan terakhir Naka memperlihatkan siluet seorang perempuan dengan caption:

Before i met you, i never knew what it was like to able to look at someone and smile for no reason. Thanks for today.

Mata Vara terasa sangat panas di tengah dinginnya malam. Buliran air mata perlahan turun membasahi pipi Vara. Entah kenapa sakit sekali melihat orang yang kita cintai dalam diam justru telah menemukan orang lain.

Vara merasa kemarin Naka mungkin hanya basa-basi dan mengucapkan terimakasih saja, tidak lebih. Mungkin sekali sikap Naka memang baik kepada sesama. Vara juga bukan seseorang yang menurut Naka spesial. Bodohnya Vara secepat kilat berasumsi bahwa Naka suka pada dirinya. Bagaimana bisa? Tau nama Vara saja tidak.

Saat kemarin menjulurkan tangan untuk menyapa dan berkenalan? Itu juga hanya sebuah etika untuk berkenalan setelah bertemu dengan orang baru dan kebetulan Naka membantu Vara pula.

Lalu di Cafe? Itu juga hal yang biasa. Kebetulan. Bukankah biasa saja apabila kita menyapa orang yang sudah sempat kita temui dan kita tolong? Naka hanya ingin berkenalan dengan Vara, setelah tahu nama Vara ya sudah tidak akan terjadi apa-apa pada Naka maupun Vara.

Naka hanya melakukan apa yang harus dia lakukan. Tidak lebih. Apalagi sampai jatuh cinta pada Vara. Oke mungkin akan banyak sekali yang menyangkal dengan beralasan, Kan ada orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama?

Itu hanya untuk sebagian orang kan, bukan semuanya. Bahkan Naka sendiri sebenarnya agak ragu dengan “LOVE AT THE FIRST SIGHT”.

Pemikiran realistis Vara baru saja terbuka setelah tertutupi dengan kekaguman terhadap Naka yang tampaknya sudah keterlaluan. Naka bersikap baik pada semua orang. Harusnya nalar Vara selalu mengucapkan kata itu. Tapi entah kenapa dari dulu selalu merasa dicintai Naka, padahal tidak sama sekali.

Saat itu juga Vara memutuskan untuk tidak lagi berharap pada Naka. Dengan beberapa kali klik second account nya sudah resmi dihapus. Entah mengapa Vara merasa sudah sepantasnya dia kembali ke realita bahwa sampai kapanpun Naka tidak akan pernah jadi miliknya. Naka terlalu sempurna untuk Vara yang tidak ada apa-apanya.

Malam itu menjadi malam yang pahit bagi Vara. Tapi apa boleh buat, Naka pantas mendapat apa yang sesuai dengan keinginannya dan yang cocok pula untuk mendampinginya.

***
Hari ini hanya ada satu mata kuliah untuk kelas Vara, itupun kelas pengganti. Dosen kadang begitu, memberikan kelas pengganti di saat mahasiswa ingin berdiam diri dan rebahan sepanjang hari. Harusnya Vara memang libur di hari jumat, tetapi tidak untuk minggu ini.

Kelas dimulai masih 20 menit lagi. Vara dan Reina memutuskan untuk duduk di kursi tepat di depan tangga untuk menuju lantai dua. Kebetulan kelas mereka berada di lantai dua pula, jadi tidak perlu terburu-buru. Posisi duduk Vara memunggungi tangga fakultas sedangkan Reina berada di depan Vara yang dengan bebas bisa memandangi siapa saja yang naik-turun tangga itu.

“Ra....”

“Apa Na?”

“Itu Ra”

“Ap--”

“Permisi, boleh numpang duduk di sini kan?”

Vara mendongak dan kaget luar biasa saat melihat seorang Naka Permana sudah duduk di sampingnya.

“Oh iya, kamu yang beberapa minggu lalu pingsan di deket parkiran ya?” Tanya Naka.

“I—iya kak.”

“Panggil Mas Naka aja.”

Nah kan, Naka memang baik ke semua orang, pada Reina saja perlakuannya juga sebaik itu.

“Kalo nama kamu siapa?”

“Vara Joanna. Maaf , kita mau kelas dulu. Permisi”

Vara tidak mau berlama-lama duduk di dekat Naka. Karena kepo Reina bertanya pada Vara

“Kok buru-buruh sih Ra kita?”

“Bentar lagi kan kelas.”

“Masih agak lama kali Ra.”

“Mau ngadem, kangen AC.”

“Padahal tadi waktu yang tepat buat lebih kenal ke Mas Naka, kan udah kenalan tuh.”

“Misi ku buat kenal Mas Naka udah selesai. Udah cukup dia tau nama ku aja Na. Aku masih punya cermin besar buat liat aku siapa Na. Kalo dipikir-pikir secara realistis, aku ngga akan mungkin sama Mas Naka. Oke kita punya sama-sama punya hobi baca buku, tapi kayaknya bakal lebih asik kalo misalnya deket sama cowok yang hobinya beda. Biar bisa saling tukar pikiran tentang hobi masing-masing. Ngga terkungkung sama dunia perbukuan aja. Bosen.”

Reina masih tidak habis pikir. Vara tiba-tiba menjadi berbeda. Tidak menggebu-gebu untuk mendekati Mas Naka seperti dulu. Alis Reina masih berkerut bingung memahami satu sahabatnya ini.

***

Sejak hari itu Vara memutuskan tidak lagi mengulik tentang Naka Permana. Sakit hatinya cukup sampai disini. Agak diundur sedikit sih, karena siang yang panas terasa makin panas saat diparkiran melihat Naka memakaikan helm pada seorang perempuan dan kemudian memboncengnya.

Di saat seperti inilah Vara ingin cosplay jadi pohon saja biar matanya tidak ternodai dengan kehadiran Naka.


Saat sampai di kos, Vara dengan cepat mengambil spidol dan kertas manila yang tersisa untuk acara ukm kemarin, lalu menuliskan satu kalimat yang dinilai mampu menyadarkannya pada realita:

DON’T LOVE TOO MUCH OR YOU WILL GET HURT TOO MUCH.

Tulisan itu ditempelkan pada dinding kamar kos nya. Kalau bisa sih sampai memenuhi dinding kos, biar dirinya tidak lagi masuk ke dunia halusinasi yang tak berkesudahan.




Aku terlalu biasa untuk kamu yang sempurna -Vara-

Cinta pada pandangan pertama? Bagaimana mungkin aku percaya? Aku tak bisa, karena aku sudah menemukan yang seirama -Naka-






-TAMAT-



Komentar

  1. Parsial sengaja dipilih untuk menjadi judul, karena di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata Parsial yaitu bagian dari keseluruhan. Maksudnya adalah rasa yang dimiliki oleh Vara hanyalah ia yang merasakan. Hanya sebagian, sedangkan sebagian lainnya yang tak lain tak bukan adalah rasa dari seorang Naka Permana, telah terambil oleh perempuan tanpa nama yang mampu mendampingi Naka.

    BalasHapus

Posting Komentar