Selamat Tinggal Kisah
Aleena
berjalan menyusuri Pantai
Anyer dengan tatapan
kosong. Air matanya telah kering tersapu angin. Kejadian beberapa saat lalu membuatnya kembali berpikir.
Membuatnya harus mengorek luka lama yang masih membekas.
Pertemuannya kembali dengan laki-laki yang lima tahun lalu
tiba-tiba membawa sebuah undangan untuknya. Hatinya seharusnya sudah biasa saja
sekarang. Tak ada lagi desiran aneh yang terasa di hatinya. Harusnya.
Laki-laki yang dulu sempat ia impikan untuk menjadi
pendamping hidupnya, kini telah menemukan kebahagiaannya. Bahkan sekarang laki-laki
tersebut telah dikaruniai satu malaikat kecil yang membuat kebahagiannya
semakin lengkap.
Arfanur. Teman baiknya semasa kuliah dulu. Yang sempat
memberikan harapan-harapan kecil pada Aleena. Kenyataannya Aleena pernah
berharap pada laki-laki itu. Namun, tak pernah sekalipun mereka bersatu. Hingga
kini.
Dua hari lalu Aleena secara tidak sengaja bertemu dengan
Arfanur di Padmadewi Beach Cafe & Resto, dekat dengan Pantai Anyer. Niat
hati Aleena ingin menghabiskan malam minggu di pantai itu, hanya sekedar
mengosongkan diri dari kerjaan, lumayan untuk menghabiskan masa cuti nya
sebelum tutup tahun. Lagipula jarak rumahnya dan Pantai Anyer tidak terlalu
jauh.
Namun, semuanya berubah tatkala bertemu Arfanur yang sedang
menggendong seorang bayi mungil yang diketahuinya sebagai buah hati dari
Arfanur. Tidak ada yang berubah darinya, masih gagah seperti dulu, senyumnya
masih manis dan tingkah lakunya masih sopan, sama persisi seperti lima tahun
lalu.
“Aleena ya?” Sapa Arfanur. Sebenarnya tidak perlu ditanya
pun Arfanur masih ingat dengan Aleena meskipun lima tahun sama sekali tidak
bertemu. Hanya memastikan saja.
Aleena menengok dan kaget setengah mati. “Iya. Siapa ya?”
Aleena masih ingat, tetapi dia pura-pura lupa terhadap Arfanur. Entah apa
maksudnya.
“Aku Arfanur. Masih ingat?”
“Oh Arfanur. Iya, masih ingat kok.” Bagaimana mungkin Aleena
melupakan laki-laki yang pernah disayanginya?
“Bagaimana kabarmu Al?”
“Seperti yang kau lihat. Baik-baik saja.” Bohong. Aleena
jarang baik-baik saja. Apalagi setelah ditinggal Arfanur.
“Syukur kalau begitu. Sayang, sini!” Arfanur melambaikan
tangan pada seorang perempuan cantik dengan dress maroon nya.
“Kenalin Al, ini Istriku. Namanya Kiara.”
“Hai, aku Kiara.”
“Aleena.”
Tak dapat dipungkiri, Kiara manis. Tubuhnya mungil. Untuk
ukuran ibu ber-anak satu sepertinya masih terlihat sekali seperti ABG.
Sedangkan Aleena? Dengan badan yang biasa-biasa saja, kulit sawo matang. Pun
jarang orang mau meliriknya. Tidak ada yang menarik dari dirinya.
“Dan ini, anak kami. Namanya Arkana.”
Aleena hanya tersenyum melihat bayi laki-laki yang digendong
Arfanur dengan muka polosnya yang sedang tidur.
“Sendiri Al?.”
“Iya.”
“Ya sudah Al, kami mau balik ke hotel lagi. Selamat
menikmati liburanmu. Semoga bisa bertemu lain kali. Kami permisi.”
Aleena hanya membalas dengan anggukan. Selepas mereka pergi,
Aleena membayar segelas Choco
Cream Shake nya. Dan segera keluar menuju pantai.
Hatinya kalut, seolah tak siap. Benteng pertahanan yang
dibangunnya selama lima tahun terakhir roboh sudah.
Air mata sempat menetes beberapa kali, lalu diusapnya secara
kasar.
Aleena kuat. Aleena sudah lupa rasanya jatuh cinta. Aleena
sudah tidak lagi memikirkan Arfanur. Itu
yang terus-terusan melintas di
kepalanya, juga hatinya. Memantapkan diri.
Sekelebat kenangan-kenangan saat Arfanur dekat sekali dengan
Aleena terlintas, seperti kaset usang
yang menampilka video masa lalu.
Masih ingat sekali Aleena, ketika Arfanur diterima menjadi
pekerja paruh waktu di sebuah restoran. Padahal waktu itu, mereka sedang
disibukkan dengan tugas kuliah semester tiga. Sempat dikstakan gila oleh
Aleena. Orang tua Arfanur termasuk ke dalam orang yang mampu, tetapi Arfanur
memang
menyukai hal-hal yang menantang. Baginya menarik.
Masih terlintas di ingatan Aleena, tatkala Arfanur
mengantarnya pulang kerumah. Dengan kondisi basah kuyup karena terkena hujan.
Jas hujan yang hanya satu dipakaikan untuk Aleena. Arfanur berusaha melindungi
Aleena. Meskipun ke esokan harinya justru Aleena yang sakit. Arfanur justru
baik-baik saja. Dibawaknnya bubur untuk Aleena kala itu. Meski tak ada adegan
suap-menyuap diantara mereka, tetapi menurut Aleena itu romantis. Arfanur masih
sempat memberikan sticky note
diatas bubur tersebut, meski sebenarnya dia
terburu-buru hendak memulai kerja paruh waktunya.
Dimakan ya Al. Cepat
sembuh. Rindu ocehan mu. Sepi di kelas tanpa kamu.
Bukan kalimat cinta. Tapi sekali lagi, itu romantis menurut
Aleena. Sepucuk tulisan yang mampu membuat Aleena tersenyum hingga menampilkan
lesung pipi nya.
Ah. Masa-masa paling manis. Sebelum Arfanur tiba-tiba
memeberikan pesan singkat lewat ponsel, tepat satu minggu sebelum wisuda
mereka.
Al, aku ingin bicara.
Temui aku di tempat kerjaku dulu.Meja 8.
Ya, saat itu Arfanur sudah tidak lagi bekerja paruh waktu. Ayahnya
melarang. Katanya kala itu.
Bergegas Aleena mengganti baju dan pamit pada mama dan papa
nya.
Sepuluh menit kemudian. Aleena sampai. Mencari dimana kah
Arfanur berada. Lebih tepatnya mencari meja bernomor 8. Ketemu. Arfanur
memunggungi Aleena.
“Hai Fa. Tumben ngajak ketemu?”
“Hai Al. Nggak juga sebenernya. Aku mau ngasih ini.”
Arfanur menyerahkan amplop coklat dengan pita merah yang cantik. Diserahkannya
dengan cara terbalik.
“Apa ini Fa?” Alena masih mengerutkan kening. Bingung.
“Undangan pernikahanku. Lusa”
Tenggorokan Aleena tercekat. Tak mampu berkata-kata. Selama
ini tidak pernah ada seorang pun perempuan yang dekat dengan Arfanur. Setahu
Aleena begitu.
“Lusa?” Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Aleena.
“Iya lusa. Aku berharap kamu bisa datang Al. Kamu tamu
spesialku.”
“Semoga.”
“Yasudah kalau begitu. Aku hanya mau memberimu itu
sebenarnya. Aku sekarang mau ke butik. Mengambil baju pengantinku. Doakan semua
lancar ya Al.”
“Pasti.”
Sepeninggal Arfanur, mata Aleena berkaca-kaca. Melihat sisi
depan undangan nya saja Aleena sudah ingin menangis apalagi mendatangi
pestanya.
Aleena dengan cepat membuka ponselnya kasar. Membuka
aplikasi pemesanan tiket. Buru-buru Ia memesan tiket pesawat ke singapura untuk
keberangkatan besok. Click. Selesai.
Lalu, Aleena membuka pesan singkat dan menuliskan ucapan
permintaan maaf pada Arfanur
Maaf Fa. Aku baru saja
mendengar kabar bahwa sepupuku yang berada di Singapura sedang melahirkan.
Mama, papa tidak bisa menjenguk karena ada kepentingan di Bogor. Aku sudah
dibelikan tiket untuk berangkat kesana. Maafkan aku Fa, aku tidak bisa datang
di pernikahanmu lusa.aku akan mengirimkan kado untukmu dan istrim. Semoga
lancar Fa. Doa ku menyertai mu.
Bohong sekali. Aleena tidak punya sepupu yang tinggal di
Singapura. Pernah, tapi dulu. Sekarang sepupunya baru saja menempuh pendidikan
di Melbourne.
Aleena merasa tidak siap apabila harus menyaksikan lelaki
yang disayanginya bersanding dengan wanita lain. Sungguh tidak siap. Harapan
yang telah dipupuk selama ini oleh Aleena hancur sudah. Tak bersisa. Walau
begitu, Ia selalu berdoa pada Tuhan agar acara Arfanur lancar sampai hari-h dan
setelahnya.
Keesokan harinya Aleena benar-benar berangkat ke Singapura.
Mama, Papa nya sempat heran. Jarang sekali Aleena mau pergi ke luar negeri. Bahkan
dulu saat Mama, Papa nya liburan ke Negeri Paman Sam saja ditolak oleh Aleena.
Padahal saat itu sedang libur panjang.
Dengan alasan ‘Pengen lihat Patung Merlion’ Papa, Mama
membolehkan Aleena. Tak lupa sebelum keberangkatannya, Aleena telah memaketkan kado
untuk Arfanur dan Istrinya.
Sepanjang perjalanan Jakarta-Singapura, Aleena tak
henti-hentinya meneteskan air mata dalam diam.
Selama disana, Aleena selalu jalan-jalan. Kemanapun dia mau.
Maksud hati untuk melupakan Arfanur. Bahkan Ia sempat membeli tiket kelas VIP
untuk konser band yang sama sekali tak dikenalnya. Gila memang. Setidaknya agar
waktunya habis untuk mengantri memasuki gedung tempat diadakannya konser. Tidak
banyak bicara. Hanya ikut mengantri.
Beberapa orang yang sadar dia seseorang dari indonesia kerap
kali menanyakan,
“Fans dari daerah mana?”
“Jakarta”
Tidak mau berkata banyak dan pura-pura terus memainkan
ponsel agar tidak ditanyai lebih lanjut.
Saat masuk ke dalam gedung, Aleena tidak paham mengapa
berada disana. Sampai konser berakhir dia hanya diam.
Setelah pulang dari konser, terlampau lelah badan Aleena
sehingga dia memutuskan kembali ke hotel, mandi dan tidur. Tidak pernah
dihiraukannya suara keroncongan perutnya yang sedari tadi terdengar.
Keesokan harinya. Hari-h pernikahan Arfanur. Aleena
mematikan ponsel seharian penuh. Menggantikannya dengan kamera pocket yang
selalu dibawanya. Mengamati Patung Merlion yang sedang menyemburkan air.
Sesekali membidiknya melalui kamera kesayangannya.
Tiga jam berkutat di tempat yang sama, membuat Aleena mulai
bosan dan memutuskan untuk pulang ke hotel.
Sampai hotel Aleena baru membuka ponselnya. Baru saja
dibuka, pesan berturut-turut masuk dari satu nama yang sama, Arfanur.
Aleena memutuskan menghapus kontak Arfanur serta menghapus
semua pesan-pesan dari Arfanur. Click. Terhapus sudah semua yang berkaitan
dengan Arfanur.
Setelah kembali ke Indonesia, Aleena berniat mengganti nomor
ponsel dengan alasan hilang saat di Singapura. Sungguh Aleena mantap sekali
melupakan dan menenggelamkan nama Arfanur dari kehidupannya.
Setelah dia kembali ke Indonesia, dia menuntaskan segalanya
yang berkaitan dengan wisudanya serta sebisa mungkin tidak bertemu dengan
Arfanur.
Setelah acara wisuda selesai, Aleena memutuskan langsung
pulang. Dengan alasan sudah gerah karena jubah tebalnya.
Seminggu setelahnya Aleena mendaftar kerja di daerah Serang,
serangkaian tes dialaminya. Dan syukurnya dia diterima. Dia serta merta
memutuskan untuk mengontrak rumah di dekat tempat kerjanya.
Bukan tanpa alasan Ia memutuskan langsung mengontrak rumah.
Karena Ia tak mau terus-terus an terbayang Arfanur yang dulu sering
mengantarkan maupun menjemputnya. Di rumahnya. Hampir setiap hari.
Kisah-kisah yang telah lalu mampir tanpa permisi di sore
hari ini. Dibantu angin sepoi-sepoi yang menggerakkan anak rambut Aleena. Masih
di tepi Pantai.
Aleena kembali ke hotel sebelum larut dan memutuskan check
out sebelum matahari terbenam. Entah kenapa perasaannya ingin cepat sampai di
rumah. Menemui Mama dan Papa. Aleena berniat menceritakan apa yang dirasakan hatinya selama ini, karenaselama ini tak pernah ada yang tahu sakit hatinya ditinggalkan Arfanur. Mama dan papa Aleena hanya menganggap Arfanur sebagai sahabat Aleena, tak lebih.
Jalanan lumayan sepi. Dengan Aleena yang hanya sendirian
mengendarai Mercedes Benz C200 nya.
Hening. Pikiran Aleena masih melayang kemana-mana. Arfanur, masa depannya,
kerjaannya, Mama Papa nya. Semuanya terasa campur aduk dalam pikirannya.
Sampai-sampai Aleena melamun cukup lama.
Motor dari arah bersebrangan melaju dengan kecepatan di atas
rata-rata sampai oleng dan masuk pada arah berlawanan, arah mobil Aleena berada.
Maksud Aleena ingin menghindari motor tersebut dengan cara banting stir.
Sungguh salah pilihan Aleena. Saat dia mencoba banting stir
ke kiri, jurang teramat dalam siap menerima Aleena dan mobilnya. Beberapa kali
kepala Aleena terbentur dengan stir. Sangat keras. Darah mengucur dari
kepalanya. Entah mengapa, Aleena berpikiran waktunya di dunia tak lama lagi.
Aleena tak sempat mengatakan “Selamat Tinggal" ke siapapun. Aleena tak sempat memberi tahu mama papa tentang kesakitan hatinya karena Arfanur. Nafasnya makin lama
makin menghilang. Dan inilah akhir dari kisah seorang Aleena Pratista Aznii.
Berakhir sudah rasa cintanya pada Arfanur, serta merta kehidupannya.
Aleena sekarang sudah tenang. Tenang melepas Arfanur. Tenang
melepas segalanya yang berkaitan dengan dunia nya. Dia biarkan rasanya pada
Arfanur masih membekas, walau seharusnya sudah hilang. Yang jelas Aleena
sekarang sudah bahagia. Bahagia dengan dunianya sendiri.
Membiarkan Arfanur bahagia adalah kebahagiaan Aleena juga.
-TAMAT-
Semoga passionmu dlm menulis akan membawamu pada kesuksesan di masa' depan...
BalasHapusI believe it...
Proud of U My lil sister...:-*:-*